Latest News
Kamis, 28 Juli 2016

Prof.Efrizal Umar: Kini Saatnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir

RADARINDONESIANEWS.COM, JAKARTA - Dalam konteks pembangunan, Indonesia membutuhkan sumber energi yang lebih besar menghadapi besarnya pertumbuhan penduduk dan pasokan energi. Dalam hal ini, terobosan untuk bisa memenuhi itu pembangunan energi nuklir ramah lingkungan sangat dibutuhkan, khususnya dalam rangka menunjang ketersediaan energi nasional hingga pasokan listrik dapat terpenuhi, hingga target 23% penggunaan energi terbarukan dari total penggunaan energi Indonesia pada tahun 2025 dapat terwujud dengan adanya PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir).

PLTN diharapkan mampu menggantikan sumber energi berbasis energi fosil yang pasokannya akan habis. Prof Efrizal Umar, Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Tekhnologi Nuklir BATAN mengatakan, "Sumber energi berbasis energi fosil yang pasokan akan habis. Namun memang patut disadari semenjak era PD II, di mana bom atom dijatuhkan, maka image terhadap nuklir konotasinya berbahaya. Karena imagenya tadi maka dianggap berbahaya. Padahal reaksi energi nuklir terbesar itu ada di matahari. Jadi tinggal bagaimana kita mengelolanya saja, karena itu penting. Nuklir itu sebenarnya reaktor atom," kata mantan kepala pusat reaktor atom di bandung, saat menjadi narasumber Seminar Nasional bertajuk 'Nuklir Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Nasional' yang diadakan oleh KMI (Kaukus Muda Indonesia) di di hotel Le Meridien, jalan Sudirman. Jakarta, Rabu (27/7).

Memang, kondisinya setelah di Jepang mengalami musibah di Fukshima, perlahan disana sebanyak 30-40% hilang PLTNnya, namun menurut Prof Efrizal Umar, mungkin ada energi terbarukan yang sudah dikembangkan juga disana. PLTN memang eranya sekarang, negara-negara berkembang mulai membangun. Seperti di Bangladesh saja juga sudah membangun. 

"Silahkan saja. Inilah perbandingannya tadi, asal dikelola, diikuti prosedurnya dengan baik, tidak apa apa itu membangun PLTN. Tinggal bagaimana kita mengelolanya saja, karena itu penting," imbuhnya lagi menyampaikan sembari menceritakan sewaktu dirinya sempat juga pernah ke beberapa tempat reaktor nuklir, yang ada di di Inggris, Ontario yang berjumlah ada 4 reaktornya dan di Perancis ada 2. 

"Namun, bila memang energi terbarukan (seperti angin, sollar shell, ombak, air laut, dan lainnya) telah siap. Buat apa BATAN memaksa maksa untuk membangun ? tapi untuk membantu, memang tugas kita seperti itu," tambahnya lagi mengatakan.

Seperti diketahui, beberapa negara maju di dunia seperti Jepang, Jerman, Prancis, dan lainnya sudah mengembangan energi nuklir, dan lagi menurut data IAEA per April 2014 mendata kalau ada sekitar 435 pembangkit listrik tenaga nuklir yang beroperasi di 31 negara di dunia.

Dalam acara seminar nasional bertajuk 'Nuklir Ramah Lingkungan Dalam Pembangunan Nasional' yang diadakan oleh KMI (Kaukus Muda Indonesia), nampak yang menjadi narasumber adalah Prof Efrizal Umar (Deputi Bidang Sains dan Aplikasi Tekhnologi Nuklir BATAN), Bpk Rendroyoko (Senior Manajer PLN Pusat), Prof. Rinaldy Dalimi (anggota Dewan Energi Nasional/DEN), Dr. Mochamad Dimyati (Dirjen Penguatan Riset , Tekhnogi dan Perguruan Tinggi),
Ibu Dra. Dahlia Cakrawati Sinaga, MT (Direktur Bapeten), dan
Bob Randelawe (Direktur Bumi Indonesia) selaku Moderator, saat seminar yang dilangsungkan di hotel Le Meridien, jalan Sudirman. Jakarta, Rabu (27/7).

Lalu juga dalam ketentuannya, dimana dalam UU nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJN) juga telah dinyatakan bahwa PLTN sudah beroperasi pada 2015-2019 dengan keselamatan yang ketat. Namun, hingga saat ini pembangunan energi nuklir untuk pambangkit listrik belum menjadi Kebijakan Nasional, hingga belum masuk dalam RUPTL (RUPTL) 2019-2025. Padahal dari sisi teknis operasional dan pengalaman, Indonesia sudah siap untuk melaksanakannya. Disinilah dibutuhkan kebijakan politik dari Pemerintah untuk menelurkan kebijakan tentang nuklir setelah tentunya ada perhitungan baik dari sisi tekhnologi, ekonomi, dan keamanan dan keselamatan bagi lingkungan di sekitar daerah pengembangan reaktor nuklir.

Selanjutnya, pada kesempatan dan waktu yang sama, Bpk Rendroyoko, selaku Senior Manajer PLN Pusat saat menjadi narasumber menyampaikan bahwa pengembangan PLTN, bila ditinjau dari sisi Offtakkeer."Ini adalah merupakan overview PLN, dimana yang sejauh sudah mengoperasikan energi listrik dan diusahakan sesuai standard. Yang mana sejumlah 75% generate sendiri, dan 25% hasil kerjasama, " tuturnya.

"Memang selama ini menggunakan coal (batu bara), minyak bumi dan gas alam untuk pembangkit tenaga listrik. Dan patut juga disadari jumlah pelanggan (konsumer) sudah makin naik jumlahnya juga," ungkapnya menjelaskan.

"Nuclear Power Plant (pembangkit listrik tenaga nuklir) sudah menjadi pilihan dasar kita, kalau pilihan terakhir kita sudah membuka. Dimana dari sisi regulasi sudah memungkinkan itu, dan lagi secara neraca energi nasional selalu kami support yang kuat. Namun harganya diharapkan lebih terjangkau. "imbuhnya.

Sedangkan, sementara itu Prof. Rinaldy Dalimi selaku perwakilan anggota Dewan Energi Nasional (DEN), mengatakan beberapa aspek ekonomi, anggaran, kesiapan SDM, bahkan bisnis sudah acapkali menjadi rangkaian pembahasan mengenai nuklir ini.

Yang memang ada kebijakan baru di dalam energi nuklir, dimana telah dimulai baru 5 tahun yang lalu, bahkan saat sidang pleno di DPR RI saja masih menjadi perdebatan.

"BATAN, Perguruan Tinggi (PT), LSM, PLN dimana perbedaan pendapat seperti hitam-putih. Hasilnya nol, akhirnya keputusan terakhir sepakat dengan itu. Penting menjadi catatan adalah Kemandirian, dan Ketahanan Energi. Dimana kemandirian, menggunakan potensi energi dalam negeri, sedang ketahanan energi, bahwa kita mesti dengan sadar peraturan perundangan dimana harus menjamin dan harga terjangkau. Biarkan pengambil keputusan, memutuskan dengan hasil sebenarnya. Jadi saya katakan Energi Nuklir sebagai Pilihan Terakhir, " kata anggota DEN (Dewan Energi Nasional) yang mana ketuanya langsung dibawahi oleh Presiden, dan ada 7 menteri,serta ada 8 stakehoulder di dalamnya tergabung.

Subsidi energi akan bisa menjadi keniscayaan apabila masyarakat belum bisa mecapai ketahanan nasional." Maka itu perlu maksimalkan energi baru, dan minimalkan penggunaan minyak. Penting untuk dicatat, Nuklir dikeluarkan dari opsi energi baru. Kita keluarkan ketentuan, dan ini keputusan nasional. Untuk di negara besar (maju) saat ini tengah mengembangkan dan mempelajari tekhnologi Fusi, mempelajari bahan bakar dari air berat. Tepatkah bila kita memilih PLTN menjadi pilihan terakhir ?," pungkasnya.[Nicholas]

  • Comments

0 komentar:

Item Reviewed: Prof.Efrizal Umar: Kini Saatnya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Rating: 5 Reviewed By: radarindonesianews.com